Rabu, 09 Maret 2016

A Word That You Always Heard from Me

Maaf atas perlakuanku, maaf atas perilakuku, maaf atas tindakanku. Tanpa ada sedetik pun bikin kamu senang. Mengapa harus serumit ini? Tidak bisakah kita bercanda tawa dengan mudah di bawah sinar bulan dengan payung yang teduh. Malah meributkan hal kecil yang tampak besar karena kau tangisi. Ketidakjelasanku memang tanpa alasan. Datang dengan keinginan yang ego. Aku mau apa yang aku mau. Aku merasakannya, aku labil. Dan aku mohon maaf atas kelabilanku yang membuat terbang tinggi lalu ditembak oleh senapan angin dan jatuh tergeletak dengan berjuang menahan rasa sakit akibat jatuh dan tembakan tersebut. Aku hanya ingin bersahabat denganmu, berbagi cerita, susah denganmu. Karna memang untuk saat ini memang itu yang aku rasakan kepadamu. Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa cemburu blabla. Tapi yaitulah kelabilanku. Mohon kesabarannya, aku tidak memohon kamu menerimaku 24 jam di otak dan hatimu dalam artian sayang yang menjurus ke pacaran. Sekali lagi aku hanya ingin akrab sebagai teman dekat atau ttm kalau kamu suka. Tapi tetap konteksnya teman. Maaf membuat bunga hatimu dimakan oleh buruknya hamaku yang tidak tau apa itu perasaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar