Rabu, 18 Mei 2016

Falling Tree


Terbasahilah
Permukaan bumi ini
Air hujan menjatuhkan tangisannya
Bumi kita imbasnya
Seharusnya kita manusia sadar
Alam sedang kecewa terhadap kita
 Hari demi hari
Pepohonan mulai menghilang
Kesejukan mulai sirna
Kehampaan menghampiri
Keegoisan manusia penyebabnya
Kekayaan membutakan mereka
Manusia kadang lupa
Tak bergunanya mereka tanpa alam
 Kegersangan yang mulai merajalela
Membuat manusia mengeluh
Tanpa mereka sadari
Merekalah penyebab kegersangan itu
Kesadaran manusia yang tak kunjung datang
Membuat alam kecewa
Ya, alam kecewa

Selasa, 17 Mei 2016

Mantan?



Apa itu mantan?
Menurut saya, mantan itu seseorang yang pernah menjadi sesuatu yang penting dalam suatu hal. Ingat "pernah" jadi setelah menyandang gelar mantan ia bukan lagi menjadi sesuatu yan penting dalam suatu hal lagi. Seperti pekerjaan, barang yang kita miliki, dan lain lain. Tapi menurut saya hanya ada satu hal yang tidak akan bisa menjadi mantan. Yaitu ikatan pernikahan, secara perasaan mungkin memang hubungan tersebut bisa menjadi "mantan" dengan kata cerai. Namun secara logika seharusnya tidak mungkin karna pernikahan merupakan suatu perjanjian yang suci dan sakral, dan nikah itu janji, sebuah janji. Saya tekankan lagi pernikahan itu ada janji. Dan janji tidak boleh diingkari, benar bukan? Haha. Menurut saya mantan memiliki dua perbedaan, mantan wangi dan jorok, jadi langsung saja. Mantan wangi adalah dimana terjadinya "mantan" dikarenakan sebuah kesepakatan yang disetujui kedua pihak, karna kalo satu pihak doang mau kek apa mantannya iyakan? Wkwk. Lalu mantan yang jorok, adalah dimana terjadinya "mantan" dikarenakan suatu masalah yang menyangkut kedua pihak, namun hanya satu pihak yang menyelesaikan masalah tersebut, intinya egois lah ya. Saya sendiri sedang dianggap sebagai mantan jorok oleh seseorang, walaupun saya menganggap ia adalah mantan wangi. Karna jorok menimbulkan bau yang membuat sekitarnya menjauh. Saya lah bau yang membuat mantan saya menjauh. Saya tidak ingin memusuhinya, saya ingin berteman dengannya. Mengingat kami pernah bahagia, saya sangat ingin menjadi mantan wangi baginya. Haha sudah sejak lama saya dianggap mantan jorok. Entah kapan saya bisa mengganti aroma saya.

Kamis, 12 Mei 2016

Golden Leaves



Seperti dedaunan, manusia juga akan jatuh dari induknya. 
Seperti dedaunan, akan ada saatnya manusia meninggalkan induknya. 
Seperti dedaunan, ada saat dimana angin menerbangkannya.
 Manusia diterbangkan oleh suatu hal yang mereka suka atau cinta. 
Seperti dedaunan, akan ada saatnya angin tak membawanya terbang lagi. 
Angin bagi manusia hilang karna kekecewaan dan amarah mereka. 
Seperti dedaunan, manusia akan menua. 
Betapa cantiknya warna keemasan yang dimiliki dedaunan disaat menua. 
Tak lama mereka sirna dari permukaan bumi, manusia dan dedaunan. 

Sabtu, 07 Mei 2016

Gelap

Awalnya aku sudah tau akan jalan keluar rumah, jadi aku nyantai saja. Setelah mendapat pesan dari temanku. Aku bersiap, lalu kami pergi menuju sebuah angkringan. Ya disitu ramai karna kebetulan malam minggu, dan yang namanya angkringan sudah pasti memiliki harga terjangkau. Saat mereka bercerita aku hanya diam, entah kenapa moodku malam ini seperti rusak, jadi aku hanya mengungkap kediamanku. Selang beberapa menit hidanganku datang dan menyantapnya. Disaat aku melihat mereka berbicara sambil makan, aku hanya diam sambil menikmati makanku ini. Apakah kau pernah merasakan "sendirian di dalam keramaian" ya itu yang kurasakan malam ini. Dan yang biasanya jam 11 pulang, kali ini jam 10 aku merasa ngantuk. Aku berpamitan untuk pulang duluan, sesampai dikasur aku hanya mendengarkan lagu yang sesuai dengan moodku malam ini. Galau, entah kenapa malam ini gelap sekali. Bukan langit, tapi hati.

Jumat, 06 Mei 2016

Cerpen #3

Sesampainya dirumah, Fithri mempersilahkan Nurma memasuki rumahnya. Fithri meminta Nurma untuk duduk dimeja makan. Semantara Nurma menunggu, Fithri memasak bahan-bahan yang sudah ia beli. Namun Nurma lelah akibat perkelahiannya tadi dan akhirnya tertidur. Fithri bertanya "Apakah kau haus?". Namun tidak ada suara balasan pertanyaan Fithri dari ruang tamu. Ia tanyakan tiga kali namun masih belum merespon. Sejenak ia ingin mengeceknya. Kompor yang sebelumnya bersuhu tinggi ia rendahkan dahulu. Setelah itu ia lekas mengecek keadaan penyelamatnya itu. Terlihat ia tertidur pulas, Fithri berpikir bahwa ia kelelahan. Fithri tidak ingin membangunkannya, maka ia melanjutkan memasak hidangannya untuk mereka berdua. Ia sudah menyelesaikan membuat hidangannya. Setelah ia menuju meja makan sambil membawa hidangannya, ia masih melihat penyelamatnya tertidur pulas. Fithri meletakkan hidanannya lalu mencoba membangunkan Nurma. Saat Nurma terbangun ia seperti kaget "Dimana aku? Aku dimana.". Fithri tertawa melihat respon dari Nurma. Nurma hanya geleng geleng seperti sedang pusing terhadap sesuatu. Lalu Fithri memberikan hidangannya untuk Nurma. Nurma dengan senang hati memakannya, Nurma mengatakan "Enak sekali loh". Kata kata itu membuat Fithri bahagia. Karna sebelumnya tidak ada yang mengatakan bahwa masakannya enak. Namun nyatanya memang tidak ada karna Nurma adalah orang yang pertama kali yang mencoba hidangan Fithri. Selesai makan Nurma mengatakan "Terima kasih, atas hidangannya. Saya pergi dulu" dibalas Fithri "Iya sama sama, kamu mau pergi kemana?"  "Entahlah mengingat bahwa saya masih belum punya rumah" "Kenapa tidak menemani saya saja disini hingga kamu menemukan rumah?" "Apakah tidak apa apa seperti itu?" "Mengapa tidak?" "Baiklah kalau memang diperbolehkan". Akhirnya mereka satu rumah.

Senin, 02 Mei 2016

Cerpen #2

Aksi pria itu membuat sang wanita tertegun karna ketangkasan pria itu. Belum lagi disaat pria itu melontarkan pertanyaan "Kamu terluka? Apa kamu tidak apa apa?" Hati sang wanita menggelora, bola matanya tertuju pada bola mata berwarna coklat tua yang dimiliki pria itu. Perempuan itu hanya melamun dengan hati yang bergetar. Sesaat pria itu menunggu jawaban dari wanita itu. Beberapa menit saat sang pria menjentikkan jari wanita itu seakan bangun dari tidurnya, lamunan dan pandangannya buyar seketika. "Ha? Iya? Kenapa?" Respon dari wanita tersebut setelah bangun dari lamunannya. "Tadi saya bertanya apa kamu terluka?" Ujar sang pria, wanita menjawab "Ohh hehe tidak saya tidak apa apa, terima kasih sudah membantu saya" ucapan bersyukur yang dilontarkan untuk sang pria. "Ohh tidak apa apa uda biasa menghadapi yang seperti ini. Boleh tau nama mba?" Pertanyaan untuk sang wanita. Dengan rasa malu malu ia menjawab "nama saya Fithriani, panggil saja Fithri. Kalo nama mas?" Jawaban dari sang pria "Nama saya Nurmadani" sang wanita tertegun lagi mendengar namanya tanpa alasan yang jelas. Karena ingin mengenal sang pria lebih dalam dan rasa terima kasih akhirnya ia mengajak sang pria untuk makan malam dirumah sang wanita. "Mas Nurma, boleh saya ajak untuk makan malam. Sekalian saya ingin berterima kasih. Paling tidak ini yang bisa saya berikan kepada mas" respon positif dari sang pria "Dengan senang hati saya mau". Akhirnya mereka berdua berjalan menuju rumah sang wanita.