Rabu, 27 Juli 2016
Still doesn't know me
Pada pagi hari disaat embun menyelimuti kota ini, aku merasakan kesejukan yang selalu ingin kurasakan untuk sepanjang hidupku. Layaknya udara bersih di daerah dataran yang tinggi, aku ingin merasakan kenyamanan ini dalam seluruh aspek kehidupanku. Dan layaknya keinginan, tidak selamanya akan terlaksana. Keinginan adalah harapan yang masih abstrak, tidak bisa di perhitungkan. Hanya bisa di doakan. Seperti yang kurasakan ini, pagi mulai menghilang digantikan oleh siang. Panasnya matahari membuat hati dan pikiran mengeluh. Seperti sekarang, keluargaku yang menjaga dari aku lahir pun masih belum juga mengenalku. Mereka memperlakukanku layaknya anak kecil yang belum bisa apa apa. Mereka hanya bisa menyuruh nyuruh aku dengan aturan mereka. Lalu aku merasakan betapa lamanya siang ini berlangsung. Hanya ingin tau kapan bergantinya siang menuju pagi ditemani dengan embun yang sejuk nan damai.
Sabtu, 16 Juli 2016
Sebuah Cerita Impian yang Ditinggalkan ~end~
Besok adalah hari pernikahan Bibu dan Humaira....
Aku memutuskan untuk pergi ke acara pernikahan Bibu walaupun dengan berat hati. Aku gak kuat melihat ia menikah dengan perempuan lain. Jujur. Aku menyiapkan kebaya untuk besok. Karena acaranya di Bandung jadi besok pagi pukul 6 harus sudah berangkat. Aku pergi sendiri karena Irfan ada konvensi kimia di Jogjakarta. Aku mempersiapkan kebutuhan untuk besok. Lucu ya selama bertahun-tahun aku bersamanya tapi nyatanya dia menikah dengan perempuan lain, miris. Seketika aku menangis lagi mengingat momen bersamanya.
--
Hari ini adalah hari pernikahan Bibu dan Humaira....
Aku sudah siap pergi ke stasiun. Aku menatap diriku di depan cermin. Iya, aku harus berbesar hati melihat Bibu bahagia dengan orang lain. Setelah aku siap, aku segera keluar. Terkejutnya aku ketika membuka pintu ada Bibu berdiri dengan tuksedo warna putih dan celana putih membawa sebuket bunga lili warna ungu.
"Bibu????" Jeritku.
"Iya." Ujarnya lalu tersenyum manis. Ia memberiku bunga. Aku mengambilnya.
"Ka....ka..kamu..." ujarku terbata-bata.
"Zay aku mau nikah sama kamu. Mau?" Tanyanya. Ia berlutut di depanku dan membuka kotak cincin.
"Humaira???" Tanyaku.
"Dia selingkuhin aku." Ujarnya.
"Loh kok bisa??" Ujarku
"Temannya memberitahuku saat acara belum dimulai sambil menunjukkan bukti, dan akhirnya aku membatalkan pernikahan itu."
"Tapi kan aku udah sama Irfan." Ujarku.
"Asal kamu tau aja Irfan sebenarnya bukan orang yang baik. Dia sudah menghamili perempuan lain . Ini buktinya." Ujar Bibu lalu menunjukkan foto percakapan Irfan dengan perempuan lain. Aku syok setengah mati???!!
"Zay, jadi jawabanmu apa? Kalo kamu mau, sekarang kita ke bandung. Kalo enggak, aku pulang" Ujarnya. Aku terdiam.
"Enggak Bi. Aku gak bisa nerima." Ucapku tertekan. Bibu membelalak. "Kamu pulang aja.." suruhku.
"Zay..."lirihnya.
"Aku gak bisa nerima!" Jeritku. Air mata Bibu mengalir. "Aku gak bisa nerima cincin ini disini! Ayok ke bandung!" Ujarku seraya tersenyum lebar. Bibu mendongak dan memelukku erat. Aku tertawa seraya menangis. Akhirnya aku dan Bibu menikah.
Kamis, 14 Juli 2016
Sebuah Cerita Impian yang Ditinggalkan {7}
Seminggu kemudian..
Aku mengantar ia ke stasiun kereta. Sedaritadi Bibu tak pernah melepas tangannya dari tanganku. Semalam dia bilang sebenarnya mau ambil cuti kuliah 2 hari lagi tapi dosennya gak bolehin.
"Zay?" bisiknya. Aku menoleh. "Hati hati ya disini. Jangan nakal." ujarnya seraya mengelus kepalaku.
"Iya iya. Kamu tuh udah kayak mau pergi keluar negeri aja dan gak akan kembali" dia hanya tersenyum lalu memelukku. Beberapa menit lagi kereta yang di tumpangin Bibu datang. Jujur aku juga gak ingin dia pergi. Menurutku seminggu terlalu cepat berlalunya. Saat kereta yang di tumpangi Bibu datang, ia kembali memelukku lebih erat. Aku membalas pelukannya.
"Dadah!" Teriakku setelah Bibu masuk ke kereta. Ia melambaikan tangannya. Ia tersenyum. "Hati hatiii!! Kabarin ya kalo sudah sampai!!" Seruku. Ia hanya mengacungkan jempolnya. Kemudian kereta pun pergi. Air mataku seketika tumpah.
..........
Berselang seminggu kemudian, aku sedang iseng memakai akun facebooknya Bibu, karna dia memperbolehkan aku memainkan akunnya aku pun juga memperbolehkan ia menggunakan akunku. Saat aku memeriksa obrolan obrolannya, aku kecewa. Obrolan teratas tertera nama Humaira, aku tidak mengetahui apa hubungannya ia dengan Bibu. Setelah aku melihat akunnya ia adalah gadis Bandung yang satu kelas dengan Bibu. Aku mengecek obrolan facebooknya dari atas hingga bawah. Seketika aku menangis. Ternyata Bibu dan Humaira sangat dekat. Lebih dekat dibanding aku dengan Irfan. Malah sudah memakai ucapan yang seharusnya tidak pantas untuk seseorang yang berteman, kecuali hubungan mereka lebih dari berteman. Ternyata aku bodoh. Semenjak aku tau chat itu, aku tidak begitu merespon Bibu. Hanya sekedarnya dan aku mulai membalas cinta Irfan.
--
5 tahun kemudian..
Aku dan Irfan sudah 1 tahun berpacaran. Aku menikmati hariku bersamanya. Aku dan dia juga merencanakan pernikahan di akhir tahun.
"Zayah aku pulang dulu ya" pamit Irfan. Aku hanya tersenyum.
"Dadah sayang!" Ujarku. Setelah Irfan pulang, aku membereskan rumah. Ketika aku merapikan rak buku, tiba-tiba salah satu buku jatuh dan keluar fotoku bersama Bibu. Aku mengambilnya dan tersenyum. Sudah lama ya kita tidak ketemu Bi, sudah lama kita gak ngobrol dan main bareng. Semenjak dia bertunangan dengan Humaira, aku dan dia sudh lost contact dan aku memutuskan untuk berpacaran dengan Irfan.
Seminggu lagi pernikahannya dengan Humaira. Aku masih bingung datang atau tidak. Dia mengirimkanku undangan lewat pos. Huft jujur sakit tapi gimana pun juga ini sudah jalan kami. Aku dan dia memang bukan jodoh.
--
Besok adalah hari pernikahan Bibu dan Humaira....
Selasa, 12 Juli 2016
You don't know me
Kalian hanya bisa mengata-ngatai ku tanpa bukti yang jelas, kesalahanku selalu kalian ingat. Selalu! Kalian tidak tau apa yang kurasakan, aku merasa tersisihkan. Merasa jelata disini, kalian tidak bisa mendiskusikan masalah bersama sama. Semua harus cara kalian, semua kalian yang nentukan. Terkadang aku merasa anak tiri disini. Terkadang rasanya semua yang kalian lakukan padaku hanya karena keterpaksaan. Saat saat seperti ini aku sakit hati. Sakit banget, kalian tidak mengerti aku. Kalian hanya bisa mengomel sana sini, hal hal yang aku yakin bisa membuat kalian bangga hilang gitu aja karna masalah sepele yang ga perlu diributin. Semua orang memiliki musibah, tapi apa salah saya sehingga kalian menghukum ku karna musibah itu. Aku harap kalian bisa baca ini walaupun tidak mungkin. Semoga suatu saat kalian akan mengenalku.
Minggu, 10 Juli 2016
Pesan Illona kepada Ibu Habibie
"Iya bu, saya sanggup melakukan itu semua, pindah negara lalu pindah agama demi Rudy
Tapi apakah Rudy sanggup? Menghargai pengorbanan saya? Mencintai saya seperti saya mencintai dia? Apakah itu setimpal bagi saya? Apakah ia siap berkorban sama seperti saya siap berkorban demi dia?"
Sabtu, 09 Juli 2016
Sebuah Cerita Impian yang ditinggalkan [6]
Terkejutnya aku ketika ada kain basah diatas kepalaku. Aku menoleh kesampingku. Bibu tertidur pulas seraya memelukku. Aku hanya tersenyum. Aku membalik badanku ke arah Bibu. Aku meraba pipinya. Teringat ketika masa SMA dulu ia masuk ke dalam kamarku dan ia tertidur seperti ini. Kemudian ia mencium bibirku.
"Bi bangun" bisikku seraya mencoel pipinya. Ia tak bergerak. "Biii" seruku. Tak juga bergerak. Sampai akhirnya aku kembali tidur.
Keesokan harinya, aku terbangun dari tidurku. Disampingku masih ada Bibu. Suara ngoroknya masih terdengar sama. Tangan kanannya tergeletak begitu saja. Kakinya menindis kakiku. Seenaknya dia tidur. Aku menggeser kakinya lalu segera mandi. Setelah mandi aku membeli bubur ayam di depan gang. Setelah beli aku kembali ke kos. Ku lihat motor Bibu masih di depan rumah.
"Zayah habis dari mana?" Tanya Bibu ketika aku membuka pintu.
"Nih." ujarku seraya menunjukan dua bungkus bubur ayam.
"Gaya banget beliin sarapan." katanya lalu duduk di sofa.
"Rese. Mandi dulu gih baru sarapan" suruhku.
Aku siapkan dua mangkok berisi bubur dan teko berisi air putih. Selesai ia mandi, aku dan dia sarapan. Kami melanjutkan cerita beberapa hari yang lalu. Tak peduli dengan masalah semalam. Seakan tak pernah terjadi.
"Bii nanti temenin belanja bulanan dong. Tapi ke atm dulu ya ambil uang." ujarku.
"Oke. Cuci mangkoknya dulu kamu."
"Enak aja nyuruh. Kamu aja. Aku malas. Mau bersiap dulu. Yang bersih ya" aku langsung meninggalkannya.
"Gak tau dirinya orang ini!!"
--
Aku dan Bibu pergi ke salah satu mall di Jogja. Sekalian aku ingin mentraktir Bibu.. Dulu dia paling sering traktir, sekarang giliranku.
"Kamu mau beli apa sih Zay?? Daritadi mondar mandir" ujarnya kesal.
"Ihh ribut! Bawain aja deh ya tuh keranjang." Seruku. Ia hanya menggerutu tak jelas. Aku teringat ia sering membawa keranjang belanja ketika aku ingin membeli sesuatu. Haha lucu sekali.
Aku mengambil beberapa cemilan dan pop mie.
"Bibu mau apa?" Tanyaku. Ia hanya menggeleng. Yasudah kalo gak mau.
Setelah belanja aku ngajak ia ke timezone seperti waktu dulu. Awalnya ia menolak dengan alasan dia membawa belanjaanku tapi aku memaksanya. Akhirnya ia mau. Aku membeli 50 koin dan menghabiskannya dalam sekejap. Aku dan Bibu tertawa ketika ada sesuatu yang lucu dan aneh. Aku menyukai saat seperti ini. Aku takut suatu saat akan kehilangan momen seperti ini atau malah gak akan terjadi lagi.
Setelah menghabiskan waktu di timezone, kami makan siang di mall.
"Kapan balik bandung?" Tanyaku.
"Minggu depn baru balik. Kenapa?"
"Hmm. Gapapa sih."
"Jangan kangen kalo aku balik Bandung."
"Yeeeee siapa juga yang kangen!!" Ujarku seraya mendorong tubuhnya. Ia tertawa. Aku tau tawanya bukan candaan tapi tawa sedih. Sebenarnya dia gak mau cepat cepat balik ke Bandung karena dia takut aku di ganggu Irfan cuma mau gimana lagi.
Makanan pun datang. Kami menikmati makanan kami masing-masing.
--
Seminggu kemudian..
Minggu, 03 Juli 2016
Sebuah Cerita Impian yang Ditinggalkan .5.
Aku mengetuk pintu kosan Zayah, berharap dia sudah pulang. Aku sudah menjemputnya tadi, namun dianya udah gak ada di halte. Sekali lagi ku ketuk pintu kamarnya. Tidak ada sautan yang muncul. Mau nelpon tapi baterai hp habis lagi. Aku duduk didepan pintu kamarnya. 30 menit kemudian aku menunggu, tiba-tiba sesosok wanita datang bersama seorang laki-laki yang memayungkannya. Seketika hatiku pecah tak karuan. Dada ini panas dan sesak. Mereka tertawa di bawah payung ungu. Apa-apaan ini??!!! Zayah terkejut melihatku terduduk di depan pintu.
"Bibu?" Ujarnya serak. Aku berdiri dan menariknya.
"Kamu tuh kemana sih??? Aku udah jemput tapi kamunya gak ada! Kan aku udah bilang tunggu aja gak ush kemana!" Bentakku.
"Seharusnya aku yang marah! Aku udah nungguin disana sampai hujan turun tapi kamu gak muncul juha. Daripada aku di lukai sama orang jahat lebih baik aku dengan Irfan aja! Lagian kamu juga senang kan jalan sama nina??." Ujarnya. "Udahlah Bi! Aku capek! Aku mau masuk!" Ia pamit dahulu dengan Irfan lalu masuk ke dalam kamarnya. Aku menatap kepergian Irfan lalu ikut masuk. Zayah sibuk mengganti pakaian.
"Berani kamu marahin aku di depan dia!" Kataku. Zayah hanya diam sambil menyisir rambutnya. "Zay kamu denger gak sih aku ngomong apa!"
"Iya aku dengar!" Teriaknya sambil menghentak kakinya. Air matanya menggenang di pelupuk matanya. Ia terduduk di atas kasur. Kesekian kalinya aku membuatnya menangis. Ia menutup wajahnya dengan bantal. Kesalahan fatal. Aku mendekatinya.
"Maaf." Bisikku. Aku memeluknya dari belakang. Ia menghindar.
"Iya ku maafin." katanya tapi tetap menutup wajahnya dengan bantal. Aku hanya bisa diam menatapnya.
......
Aku dan dia berdiaman selama sejam. Aku duduk di pinggir kasur sedangkan maya baring di sudut kasur dekat dinding. Aku menatap punggungnya. Ia membelakangiku seraya memeluk guling. Nafasnya teratur. Rambutnya tergerai berhamburan diatas bantal. Sepertinya ia tertidur. Aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Aku terkejut karena badannya panas. Aku dengan cepat menyelimutinya.
"Maaf ya aku buat kamu demam. Aku gak mau ninggalin kamu sendirian pas sakit gini. Apalagi sakitnya karena aku." Bisikku. Zayah hanya diam. Aku tau dia sangat kelelahan. Aku mengusap rambutnya seraya mengecup keningnya. Aku menyayanginya tetapi apa daya ia tak menginginkanku lagi.
Jumat, 01 Juli 2016
Sebuah Cerita Impian yang Ditinggalkan '4'
Selesai kuliah, aku menunggu di parkiran seperti yang Bibu pesan. Langit mulai menitikkan air matanya. Aku menutup badanku dengan jaket rajutku. Aku memiliki firasat buruk. Daritadi handphonenya gak aktif semenjak ia sms terakhir. Sekarang ia belum muncul juga. Irfan dengan setia menunggu hingga aku di jemput Bibu.
"Mana ini dia?? Katanya dia jemput kamu kan?" Tanya Irfan.
"Iyaa dia jemput aku kok"
"Terus mana dia sekarang? Sudah jam 6 loh."
"Gak tau nah Fan."
"Aku anterin pulang aja ya?"
"Gak usah Fan. Kasian nanti dia."
"Kamu mau nunggin dia?? Dia keknya lagi senang senang sama Nina" ujar Erwin. Aku menatapnya. Rasanya sesak ketika ia mengatakan itu.
"Aku anter pulang ya. Aku ambil mobilku dulu. Oke?" Tawar Irfan. Kalo aku nungguin Bibu pasti dia lagi seneng seneng sama Nina. Betul juga kata Irfan. Akhirnya aku mau dan diantar Irfan sampai kosan ku
Hujan mengguyur kota ini dengan amarah. Aku mengetuk layar handphone berharap Bibu menghubungiku tapi kenyataannya tidak.
"Zay kita kejebak macet nih. Jadi kemungkinan 1 jam lagi baru nyampe kosan. Gapapa?" Tanya Irfan.
"Gapapa kok. Makasih banget ya mau anter pulang." ujarku. Aku tersenyum manis kepadanya. Ia balik tersenyum dan mengelus kepalaku. Tiba-tiba aku merasa tersengat. Jantungku berdegup lebih cepat. Wajahku memerah. Lagu galau melantun dari radio. Menemani kesunyiaan kami. Selama Irfan mengejarku baru kali ini aku merasa nyaman dengannya.
......
Langganan:
Komentar (Atom)