Jumat, 01 Juli 2016

Sebuah Cerita Impian yang Ditinggalkan '4'



            Selesai kuliah, aku menunggu di parkiran seperti yang Bibu pesan. Langit mulai menitikkan air matanya. Aku menutup badanku dengan jaket rajutku. Aku memiliki firasat buruk. Daritadi handphonenya gak aktif semenjak ia sms terakhir. Sekarang ia belum muncul juga. Irfan dengan setia menunggu hingga aku di jemput Bibu.
"Mana ini dia?? Katanya dia jemput kamu kan?" Tanya Irfan.
"Iyaa dia jemput aku kok"
"Terus mana dia sekarang? Sudah jam  6 loh."
"Gak tau nah Fan."
"Aku anterin pulang aja ya?"
"Gak usah Fan. Kasian nanti dia."
"Kamu mau nunggin dia?? Dia keknya lagi senang senang sama Nina" ujar Erwin. Aku menatapnya. Rasanya sesak ketika ia mengatakan itu.
"Aku anter pulang ya. Aku ambil mobilku dulu. Oke?" Tawar Irfan. Kalo aku nungguin Bibu pasti dia lagi seneng seneng sama Nina. Betul juga kata Irfan. Akhirnya aku mau dan diantar Irfan sampai kosan ku
Hujan mengguyur kota ini dengan amarah. Aku mengetuk layar handphone berharap Bibu menghubungiku tapi kenyataannya tidak.
"Zay kita kejebak macet nih. Jadi kemungkinan 1 jam lagi baru nyampe kosan. Gapapa?" Tanya Irfan.
"Gapapa kok. Makasih banget ya mau anter pulang." ujarku. Aku tersenyum manis kepadanya. Ia balik tersenyum dan mengelus kepalaku. Tiba-tiba aku merasa tersengat. Jantungku berdegup lebih cepat. Wajahku memerah. Lagu galau melantun dari radio. Menemani kesunyiaan kami. Selama Irfan mengejarku baru kali ini aku merasa nyaman dengannya.
......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar