Minggu, 03 Juli 2016
Sebuah Cerita Impian yang Ditinggalkan .5.
Aku mengetuk pintu kosan Zayah, berharap dia sudah pulang. Aku sudah menjemputnya tadi, namun dianya udah gak ada di halte. Sekali lagi ku ketuk pintu kamarnya. Tidak ada sautan yang muncul. Mau nelpon tapi baterai hp habis lagi. Aku duduk didepan pintu kamarnya. 30 menit kemudian aku menunggu, tiba-tiba sesosok wanita datang bersama seorang laki-laki yang memayungkannya. Seketika hatiku pecah tak karuan. Dada ini panas dan sesak. Mereka tertawa di bawah payung ungu. Apa-apaan ini??!!! Zayah terkejut melihatku terduduk di depan pintu.
"Bibu?" Ujarnya serak. Aku berdiri dan menariknya.
"Kamu tuh kemana sih??? Aku udah jemput tapi kamunya gak ada! Kan aku udah bilang tunggu aja gak ush kemana!" Bentakku.
"Seharusnya aku yang marah! Aku udah nungguin disana sampai hujan turun tapi kamu gak muncul juha. Daripada aku di lukai sama orang jahat lebih baik aku dengan Irfan aja! Lagian kamu juga senang kan jalan sama nina??." Ujarnya. "Udahlah Bi! Aku capek! Aku mau masuk!" Ia pamit dahulu dengan Irfan lalu masuk ke dalam kamarnya. Aku menatap kepergian Irfan lalu ikut masuk. Zayah sibuk mengganti pakaian.
"Berani kamu marahin aku di depan dia!" Kataku. Zayah hanya diam sambil menyisir rambutnya. "Zay kamu denger gak sih aku ngomong apa!"
"Iya aku dengar!" Teriaknya sambil menghentak kakinya. Air matanya menggenang di pelupuk matanya. Ia terduduk di atas kasur. Kesekian kalinya aku membuatnya menangis. Ia menutup wajahnya dengan bantal. Kesalahan fatal. Aku mendekatinya.
"Maaf." Bisikku. Aku memeluknya dari belakang. Ia menghindar.
"Iya ku maafin." katanya tapi tetap menutup wajahnya dengan bantal. Aku hanya bisa diam menatapnya.
......
Aku dan dia berdiaman selama sejam. Aku duduk di pinggir kasur sedangkan maya baring di sudut kasur dekat dinding. Aku menatap punggungnya. Ia membelakangiku seraya memeluk guling. Nafasnya teratur. Rambutnya tergerai berhamburan diatas bantal. Sepertinya ia tertidur. Aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Aku terkejut karena badannya panas. Aku dengan cepat menyelimutinya.
"Maaf ya aku buat kamu demam. Aku gak mau ninggalin kamu sendirian pas sakit gini. Apalagi sakitnya karena aku." Bisikku. Zayah hanya diam. Aku tau dia sangat kelelahan. Aku mengusap rambutnya seraya mengecup keningnya. Aku menyayanginya tetapi apa daya ia tak menginginkanku lagi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar